Tampilkan postingan dengan label tokoh. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label tokoh. Tampilkan semua postingan

Minggu, 08 Februari 2009

Prabowo Subianto

berikut ada video wawancara Peter F gontha dengan Prabowo

Prabowo part 1

part 2


3


4


5


6

7

8

9

Prof. Dr. Sumitro Djojohadikusumo, begawan ekonomi Indonesia

C © updated 09052005


Prof. Dr. Sumitro Djojohadikusumo - Bapak Sarjana Ekonomi Indonesia
► e-ti/tempo
Nama:
Prof.Dr. Sumitro Djojohadikusumo
Lahir:
Kebumen/Jawa Tengah, 29 Mei 1917
Meninggal:
Jakarta, 9 Maret 2001
Menikah:
7 Januari 1947
Istri:
Dora Sigar (asal Langowan/Minahasa)
Anak:
Biantiningsih Djiwandono (istri bekas Gubernur BI Sudradjat Djiwandono), Maryani Le Maistre, Prabowo Subianto, dan Hashim Suyono Djojohadikusumo
Orangtua:
R.M. Margono Djojohadikusumo/Siti Katoemi Wirodihardjo
Pendidikan:
- HIS (Holland Inlandsche School)
- MULO (Meer Uitgrebreid Lager Onderwijs)
- Universitas Sorbonne di Paris, Perancis (1934-1938)
- Economische Hogeschool di Rotterdam/Belanda (Sarjana 1940, Doktor 1942)
Riwayat Pekerjaan:
- Pembantu Staf Perdana Menteri RI Sutan Syahrir (1946)
- Presiden Direktur Indonesian Banking Corporation (1947)
- Wakil Ketua Perutusan Indonesia pada Dewan Keamanan PBB membantu L.N.Palar (1948-1949)
- Anggota Delegasi RI di Konperensi Meja Bundar, di Den Haag, Belanda (1949)
- Kuasa Usaha KBRI di Washington, D.C (1950)
- Menteri Perdagangan & Perindustrian RI di Kabinet Natsir (6/9/1950 - 27/4/1951)
- Guru Besar Ekonomi Universitas Indonesia (1952 - 2000)
- Menteri Keuangan RI di Kabinet Wilopo (3/4/1952 - 30/7/1953)
- Menteri Keuangan RI di Kabinet Burhanuddin Harahap (12/8/1955 - 24/3/1956)
- Bergabung dengan PRRI/Permesta (1958 -1961)
- Di pengasingan, sebagai Konsultan Ekonomi di Malaysia, Hong Kong, Thailand, Perancis dan Swiss (1958 - 1967)
- Menteri Perdagangan RI di Kabinet Pembangunan I (6/6/1968 - 28/3/1973)
- Menteri Riset di Kabinet Pembangunan II (28/3/1973 - 28/3/1978)
Kegiatan Lain:
- Guru Besar Universitas Indonesia (1951-2001)
- Ketua Umum Induk Koperasi Pegawai Negeri (1982)
- Konsultan Ekonomi pada Indoconsult (1978) dan PT Redecon
- Komisaris Utama PT Bank Pembangunan Asia (1986)
- Aktif di LP3ES
- Ketua Dewan Penyantun Universitas Mertju Buana (1985 - 1990)
Karya:
- Soal Bank di Indonesia, 1946
- Keuangan Negara dan Pembangunan, 1954
- Ekonomi Pembangunan, 1955
- Kebijaksanaan di Bidang Ekonomi Perdagangan, 1972
- Indonesia dalam Perkembangan Dunia Kini dan Masa Datang, 1976
- Trilogi Pembangunan dan Ekonomi Pancasila, 1985
- Perdagangan dan Industri dalam Pembangunan, 1986
Penghargaan:
- Bintang Mahaputra Adipradana II
- Panglima Mangku Negara, Kerajaan Malaysia
- Grand Cross of Most Exalted Order of the White Elephant, First Class dari Kerajaan Thailand
- Grand Cross of the Crown dari Kerajaan Belgia serta yang lainnya dari Republik Tunisia dan Perancis
Buku Biografi:
Jejak Perlawanan Begawan Pejuang, terbitan Pustaka Sinar Harapan, April 2000
Alamat rumah:
Jalan Kertanegara 4, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan
Sumber:
Dari berbagai sumber terutama Intisari, Tempo, dan Kompas


SUMITRO HOME
► GONG XI FA CAI ► Selamat datang di situs gudang pengalaman ► Thank you for visiting the experience site ► TOKOHINDONESIA DOTCOM ► Biografi Jurnalistik ► The Excellent Biography ► Database Tokoh Indonesia terlengkap yang tengah dikembangkan menjadi Ensiklopedi Tokoh Indonesia online ► Anda seorang tokoh? Sudahkah Anda punya "rumah pribadi" di Plasa Web Tokoh Indonesia? ► Silakan kirimkan biografi Anda ke Redaksi Tokoh Indonesia ► Dapatkan Majalah Tokoh Indonesia di Toko Buku Gramedia, Gunung Agung, Gunung Mulia, Drug Store Hotel-Office & Mall dan Agen-Agen atau Bagian Sirkulasi Rp.14.000 Luar Jabotabek Rp.15.000 atau Berlangganan Rp.160.0000 (12 Edisi) ► Segenap Crew Tokoh Indonesia Mengucapkan Selamat Ulang Tahun Kepada Para Tokoh Indonesia yang berulang tahun hari ini. Semoga Selalu Sukses dan Panjang Umur ►
► GONG XI FA CAI ► Selamat datang di situs gudang pengalaman ► Thank you for visiting the experience site ► TOKOHINDONESIA DOTCOM ► Biografi Jurnalistik ► The Excellent Biography ► Database Tokoh Indonesia terlengkap yang tengah dikembangkan menjadi Ensiklopedi Tokoh Indonesia online ► Anda seorang tokoh? Sudahkah Anda punya "rumah pribadi" di Plasa Web Tokoh Indonesia? ► Silakan kirimkan biografi Anda ke Redaksi Tokoh Indonesia ► Dapatkan Majalah Tokoh Indonesia di Toko Buku Gramedia, Gunung Agung, Gunung Mulia, Drug Store Hotel-Office & Mall dan Agen-Agen atau Bagian Sirkulasi Rp.14.000 Luar Jabotabek Rp.15.000 atau Berlangganan Rp.160.0000 (12 Edisi) ► Segenap Crew Tokoh Indonesia Mengucapkan Selamat Ulang Tahun Kepada Para Tokoh Indonesia yang berulang tahun hari ini. Semoga Selalu Sukses dan Panjang Umur ►



BIOGRAFI

Prof. Dr. Sumitro Djojohadikusumo
Begawan Ekonomi Indonesia


Ia pernah lima kali menjabat sebagai menteri di masa Orde Lama dan Orde Baru. Begawan ekonomi yang ikut mendirikan Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, ini juuga diangkat oleh PBB menjadi anggota “lima ahli dunia” (group of five top experts). Dalam rangkaian perjuangan dan pengabdian kepada bangsa dan negaranya, ia juga pernah menjadi ‘penyelundup’ dan sempat bergabung dalam PRRI/Permesta, bahkan menjadi ‘pelarian’ selama sepuluh tahun di luar negeri.

Sumbangan Sumitro Djojohadikusumo ''Bapak Sarjana Ekonomi Indonesia" terhadap perkembangan ilmu ekonomi yang berorientasi pada kebijaksanaan pembangunan di Indonesia, tidak diragukan lagi. Ia berhasil mengenyam pendidikan hingga meraih doktor bidang ekonomi yang menurut ukuran orang pada zamannya masih sangat sedikit jumlahnya.

Setamat Hogere Burger School (HBS), pria kelahiran Kebumen, Jawa Tengah, 29 Mei 1917, ini berangkat ke Belanda akhir Mei 1935. Sempat dua bulan "mampir" di Barcelona, Sumitro akhirnya ke Rotterdam untuk belajar. Dalam tempo dua tahun tiga bulan, gelar Bachelor of Arts (BA) diraihnya. Ini rekor waktu tercepat di Netherlands School of Economics. Ia lalu melanjutkan studinya di Universitas Sorbonne, Paris (1937-1938).

Antara 1938-1939 di Prancis, Sumitro bergabung dengan kelompok sosialis dan berkenalan dengan tokoh dunia seperti Andre Malraux, Jawaharlal Nehru, Henri Bergson, dan Henri Cartier-Bresson. Dari mereka dia belajar banyak tentang pengabdian, perlawanan, keadilan sosial, dan kekonsistenan hidup. Ia kemudian sempat ikut latihan militer di Catalonia, tapi gagal masuk Brigade Internasional karena umurnya belum genap 21 tahun.

Dari Paris, Sumitro kembali ke Rotterdam, melanjutkan studi ekonomi. Ia memasuki periode penulisan disertasi saat Nazi Jerman menyerang Belanda, 5 Mei 1940. Pimpinan Nederlandse Economische Hogeschool menunjuk Prof. Dr. G.L. Gonggrijp sebagai promotornya.

Disertasinya berjudul Het Volkscredietwezen in de Depressie yang dalam bahasa Indonesia berarti "Kredit Rakyat (Jawa) di Masa Depresi" diterbitkan oleh Lembaga Penelitian Ekonomi Nederlands Economische Hogeschool. Gelar Master of Arts (MA) diraih tahun 1940. Sementara, usianya baru menjelang 26 tahun saat ia menyandang gelar doktor ilmu ekonomi.

Setelah menggondol gelar doktor, Sumitro ditampung oleh Sjahrir, dijadikan pembantu staf Perdana Menteri (1946), diterima sebagai anggota Partai Sosialis Indonesia (PSI) yang waktu itu dipimpin oleh Sjahrir-Amir Syarifuddin. Pada masa proklamasi kemerdekaan RI, Sumitro tergolek sakit di pembaringan hampir setahun lamanya. Ia menjalani operasi tumor usus besar tanpa antibiotika. Beruntung ia selamat dari ancaman maut.

Pagi, 18 Agustus 1945, Kota Rotterdam dikejutkan oleh berita Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, di Radio Hilversum. Berita itu memberikan kekuatan sugestif bagi kesembuhannya. Saat Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa bersidang di Church House, London, 17 Januari 1946, ia dan Mr. Zairin Zain ikut hadir. Seusai sidang, Sumitro dan Zairin terbang ke Jakarta. Tiba di rumah orang tuanya, Sumitro disambut suasana duka: dua adiknya, Subianto (21) dan Sujono (16) gugur dalam pertempuran melawan Jepang di Tangerang.

Kenyataan ini memperkuat tekadnya untuk melawan Belanda dalam mempertahankan proklamasi kemerdekaan RI. Bersama Perdana Menteri Sutan Sjahrir, Sumitro dan Zairin pada 14 Maret 1946 menyusun argumentasi baru untuk menghadapi diplomasi Belanda.

Dunia internasional menolak Agresi Militer Belanda, 21 Juli 1947. India dan Australia, 30 Juli 1947, membawa persoalan Indonesia ke Sidang Dewan Keamanan di Lake Success, AS. Sutan Sjahrir, H. Agus Salim, Charles Tambu, Sudjatmoko, dan Sumitro Djojohadikusumo ikut hadir.

Sumitro terpaksa meninggalkan Dora, yang baru enam bulan dinikahinya, tepatnya 7 Januari 1947. Ia berjumpa pertama dengan Dora Sigar di Rotterdam tahun 1945. Ketika itu Dora belajar di Ilmu Perawatan Pascabedah di Utrecht.


Menjadi “Penyelundup”
Tanggal 19 Desember 1948, Belanda melakukan Agresi Militer Kedua. Satu hari kemudian Sumitro bergegas menemui Robert A. Lovett, pejabat sementara Menteri Luar Negeri AS di Washington DC sambil membawa sebuah memorandum. Ketika Sidang Dewan berlangsung, Sumitro meninggalkan New York untuk menghadiri Konferensi Asia yang membahas masalah Indonesia di New Delhi, 18 Januari 1949. Ia bergabung dengan delegasi Indonesia yang dipimpin Mr AA Maramis.


Masa transisi - mulai dari takluknya Jepang, proklamasi kemerdekaan, hingga usaha-usaha Belanda untuk menjajah kembali - berdampak bagi perekonomian Indonesia.
Saat itu masih beredar mata uang Jepang, gulden Belanda, dan uang NICA.

Berangsur-angsur dilakukan penggantian dengan Oeang Republik Indonesia (ORI). Oleh karena kekurangan bahan kimia untuk membuat ORI, Sumitro mencarinya ke Singapura dan "menyelundupkannya" ke Jawa. Ia belajar jadi "penyelundup" untuk kepentingan revolusi. Ini tugas dari Sjahrir dan Bung Hatta.

Pada 12 April 1947, Presiden Soekarno membentuk Panitia Pemikir Siasat Ekonomi pimpinan Muhammad Hatta. Anggota panitia pemikir berjumlah 98 orang. Sumitro bertugas memikirkan hal-ihwal keuangan dipimpin Mr Sjafruddin Prawiranegara.

Usianya masih sangat muda (33) ketika Sumitro diangkat jadi Menteri Perdagangan dan Perindustrian, sekitar Mei 1950. Pada 20 Maret 1951 Kabinet Natsir roboh.


Kemudian, Ketua Senat FE-UI Suhadi Mangkusuwondo bersama mahasiswa FE-UI meminta Sumitro menjadi dekan, dimana dia salah seorang pendiri fakultas tersebut. Waktu itu usianya 34 tahun. Belum lama menjabat dekan, Dr. Sumitro Djojohadikusumo diangkat menjadi guru besar ilmu ekonomi di FE-UI. Selama di FE-UI, Sumitro ingin menjadikannya Jakarta School of Economics yang punya integritas. Dari sana, lahirlah orang-orang seperti Widjojo Nitisastro, Barli Halim, JB Sumarlin, dan Ali Wardhana.

Pada 3 April 1952, Sumitro kembali diangkat menjadi Menteri Keuangan Kabinet Wilopo. Sejak 3 Juli 1953, Kabinet Wilopo demisioner. Tanggal 30 Juli 1953 Sumitro kembali menjadi Dekan FE-UI.

Semenjak menjadi Menteri Keuangan pada Kabinet Wilopo-Prawoto (3 April 1952 - 30 Juli 1953), Sumitro merasakan adanya ketimpangan daerah. Terjadi pergolakan dalam dirinya sebagai politikus dan akademisi.

Tanggal 30 Juli 1953 - 24 Juli 1955 adalah masa Kabinet Ali Sastroamidjojo I. Kemudian terbentuk Kabinet Burhanuddin Harahap (12 Agustus 1955 - 24 Maret 1956) dan Sumitro kembali dipercaya sebagai Menteri Keuangan.

Perjuangkan Otonomi Daerah
Sepanjang tahun 1957, koran komunis dan pers nasional seperti Harian Rakyat dan Bintang Timur melansir pemberitaan buruk tentang Sumitro. Ia dituduh melakukan korupsi besar-besaran.

Pada 23 Maret 1957 Sumitro dipanggil Corps Polisi Militer (CPM) Bandung. Tapi pemeriksa menyatakan, tidak ada alasan untuk menahan Sumitro. Panggilan kedua oleh CPM terjadi pada tanggal 6 - 7 Mei 1957. Kemudian 8 Mei 1957, ia dipanggil lagi.

Sumitro semakin tertekan oleh serangan koran prokomunis dan merasa hendak ditangkap. Atas prinsip "pengabdian dan perlawanan" ia memilih melawan rezim Soekarno yang dianggap terlalu dekat dengan golongan komunis dan mengabaikan pembangunan daerah.

Pada Mei 1957 ia ke Sumatra, bertemu Letkol Barlian dan Mayor Nawawi di Palembang. Ia sempat menyamar sebagai Letnan Dua Rasyidin. Pada 13 Mei 1957, ia tiba di Padang, bertemu Panglima Divisi Banteng, Letkol Achmad Husein. Malamnya Sumitro menuju Pekanbaru, menemui Kapten Yusuf Baron.

Ultimatum kepada pemerintah pusat akhirnya dikeluarkan pada 10 Februari 1958. Tanggal 15 Februari 1958, Achmad Husein melalui Radio Bukittinggi mengumumkan proklamasi pemerintahan tandingan, Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI).

Dari Jakarta, Sjahrir menugaskan Djoeir Moehamad dan Djohan Sjahruzah menghubungi dewan-dewan militer di daerah. Sekaligus menghubungi Sumitro Djojohadikusumo. Mereka "mengejar" Sumitro hingga ke Padang. Tapi Sumitro keburu ke Pekanbaru, kemudian ke Bengkalis, sempat menyamar jadi kelasi kapal menuju Singapura.

"Ia ternyata menempuh jalan sendiri dan diumumkan menjadi salah seorang menteri PRRI," tulis Djoeir dalam bukunya, Memoar Seorang Sosialis (1997, hlm 268). Belakangan, setelah Sumitro terlibat dalam PRRI, Presiden Soekarno mendapat dalih bagus untuk membubarkan PSI dan Masyumi bulan Agustus 1960.

Sumitro lalu ke Saigon juga dengan menyamar sebagai kelasi kapal sebelum ke Manila dan melakukan kontak dengan Perjuangan Semesta (Permesta). Menyamar menjadi cargo supervisor atas nama pemilik kopra, Sumitro masuk ke Bitung. Ia ke Sumatra menggelar pertemuan dan memperluas hubungan dengan pemimpin militer di Sumatra, juga Sumual di Sulawesi.

Subadio, utusan Sjahrir, bertemu Sumitro di Singapura. Sumitro berperan menangani bidang logistik bersama Kolonel Simbolon dan Husein bagi PRRI. Ia sempat mengecek pengadaan senjata. Sebagian senjata dibeli di Phuket (Thailand) dan Taiwan. Dua kali ia masuk Taiwan, dan kembali ke Minahasa dengan pesawat bermuatan amunisi.

Konsep semula, menurut Sumitro, hanya untuk memperbaiki Jakarta. Tidak ada bayangan membuat suatu pemerintahan tandingan. Tuntutan mereka hanyalah ingin otonomi dan pengembangan daerah.

Sumitro mempercayai gagasan persatuan Indonesia. Namun, tatkala PRRI hendak mendirikan Republik Persatuan Indonesia (RPI), dan Pulau Jawa tidak termasuk di dalamnya, ia menolak tegas, "Kalau demikian, saya tidak bisa ikut, sebab negara kita satu."



Pelarian ke Luar Negeri

Ketidaksepakatan ini mendorong Sumitro mengungsi ke luar negeri, lantaran belum memungkinkan pulang ke Jakarta. Pemerintahan Soekarno masih menganggapnya pemberontak yang harus disingkirkan.

Selama 10 tahun di pelarian, Sumitro menggunakan banyak nama samaran. Para mahasiswa di Jepang mengenalnya sebagai Sungkono. Di Jerman dipanggil Sunarto. Di luar Frankfurt pakai nama Abdul Karim. Di Hongkong orang mengenalnya Sou Ming Tau (bahasa Kanton) dan Soo Ming Doo (bahasa Mandarin). Warga Malaysia mengenalnya Abu Bakar. Ia dipanggil Henry Kusumo atau Henry Tau di Bangkok.


Demi keamanan, Sumitro bersama keluarganya tak mau tinggal di suatu negara lebih dari dua tahun. Mulai dari Singapura, Hongkong, Kuala Lumpur, Zurich-Swiss, London, kemudian pindah ke Bangkok.

Untuk menghidupi keluarganya di pelarian, ia menjadi saudagar mebel dan real estate di Malaysia. Juga mendirikan Economic Consultans for Asia and the Far East (Ecosafe) di Hongkong, dan cabangnya di Kuala Lumpur. Ia memakai nama Kusumo.

Sebagai orang tua, ia dikenal keras dan disiplin dalam mendidik keempat anaknya. Buktinya, putri tertua, Ny. Biantiningsih yang istri mantan Gubernur BI J Soedrajat Djiwandono, sampai memiliki dua gelar kesarjanaan. Begitu juga Ny Marjani Ekowati, putri kedua yang menikah dengan orang Prancis. Letjen Prabowo Subianto berhasil meniti karier sebagai Danjen Kopassus dan Pangkostrad. Lalu si bungsu Hashim Sujono menjadi pengusaha sukses.


Kembali ke Tanah Air
Pada Maret 1967, Soeharto menjabat presiden RI. Suatu kali Ali Moertopo menemui Sumitro di Bangkok, dan bertanya, "Apakah Pak Mitro bersedia kembali?" Sumitro bilang, "You just remain yourself, and I just remain myself." Kemudian, Menlu Adam Malik, yang berkunjung ke Bangkok, mempertebal keyakinan Sumitro untuk pulang ke Tanah Air.

Sesudah resmi menjadi presiden, Soeharto menerima Sumitro di Cendana, 29 Mei 1968. Ia meminta kesediaan Sumitro membenahi ekonomi yang ambruk. Inflasi 600% lebih, kala itu.

Sumitro akhirnya dilantik sebagai Menteri Perdagangan pada 27 Maret 1968. Tanggal 6 Juni 1968 susunan menteri Kabinet Pembangunan I diumumkan. Selanjutnya ia diangkat menjadi Menteri Negara Riset Nasional (Menristek) pada Kabinet Pembangunan II.


Menjadi Konsultan
Sekeluar dari kabinet tahun 1978, Penggemar kopi dan perokok berat ini menjadi konsultan. Juga menulis buku. Dalam kurun waktu 1942-1994, ekonom yang fasih berbahasa asing antara lain bahasa Belanda, bahasa Inggris, dan bahasa Spanyol ini telah menulis 130 buku dan makalah dalam bahasa Inggris.

Sejak 1982 ia mengurusi Induk Koperasi Pegawai Negeri (IKPN). Ia sempat menjadi komisaris Bank Niaga, Bank Universal, dan Bank Kesejahteraan. Pada 18 September 1992 - Desember 1992 Sumitro ditunjuk sebagai preskom Astra.

Buku terakhir yang ditulisnya adalah Jejak Perlawanan Begawan Pejuang yang diterbitkan Pustaka Sinar Harapan, April 2000. Berbagai tanda penghargaan yang diperolehnya baik dari dalam negeri maupun luar negeri antara lain Bintang Mahaputra Adipradana (II), Panglima Mangku Negara, Kerajaan Malaysia, Grand Cross of Most Exalted Order of the White Elephant, First Class dari Kerajaan Thailand, Grand Cross of the Crown dari Kerajaan Belgia serta yang lainnya dari Republik Tunisia dan Perancis.


Tantangan
Di usia senjanya, cobaan bagai badai datang bagi keluarga Sumitro. Karier putra ketiganya, Prabowo Subianto, di bidang militer, tamat. Menantunya, Sudradjat Djiwandono, suami Biantiningsih, putri sulung, dicopot dari jabatan sebagai Gubernur Bank Indonesia (BI) hanya 10 hari menjelang masa jabatannya habis. Putra bungsunya, Hashim, diterpa banyak kesulitan dalam usaha.

Meski demikian, Sumitro yang sudah mengecap asam garam kehidupan tetap memegang pedoman hidupnya, “Smiling in the face of adversity/Contemptous of danger/Undaunted in defeat/ Magnanimous in victory (Tersenyum menghadapi kemalangan/ Berani menantang bahaya/Tegar dalam kekalahan/Rendah hati akan kemenangan). Pedoman dalam bentuk sajak itulah yang ditanamkannya pada putra-putrinya untuk tetap bertahan dalam menghadapi segala kesulitan.

"I've been through worst. Ini bukan yang pertama kali!" katanya lantang. "Ujian buat saya dalam kehidupan jauh lebih dari itu, habis dari menteri lalu tiba-tiba jatuh jadi buronan, ha-ha-ha!" tutur pria yang suka bicara ceplas-ceplos ini.

Kisah ‘Suka Ceplas Ceplos’
Gayanya yang ceplas-ceplos dan blak-blakan menjadi ciri khas. Sebagai "begawan" ekonomi, Prof. Dr. Sumitro Djojohadikusumo memang selalu kritis. Setelah menjadi besan Presiden Soeharto pun ia tetap melancarkan kritik tajam terhadap jalannya roda pembangunan. Baginya, perkawinan anak laki-lakinya Letjen Prabowo Subianto dengan Siti Hediyati (putri Soeharto) pada Mei 1983 hanyalah historical accident.

Salah satu kritiknya yang tajam ialah pernyataannya tentang kebocoran 30% dana pembangunan yang dilansir di Kongres Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) ke-12 di Surabaya, November 1993. ISEI sendiri didirikan Sumitro tahun 1955.

Bila Sumitro - yang pada 1985 menjadi anggota seven eminent persons dengan tugas menyusun rekomendasi kepada GATT (General Agreement on Tariffs and Trade) - sudah kelewat keras mengkritik, biasanya menantunya datang kepadanya untuk menyampaikan pesan Presiden Soeharto.

"Ada apa, Tiek? Ada pesan dari Bapak?" sambut Sumitro.

"Ya, Bapak bilang, 'Tiek, mertuamu sudah priyayi sepuh kok masih radikal saja'!" ujar Siti Hediyati alias Titiek Prabowo.

"Ya, saya memang sudah terlalu tua untuk mengubah diri!" jawab Sumitro enteng.

Masih soal sinyalemen kebocoran itu, ketika bertemu Sumitro, Soeharto langsung berkata, "Kok, Pak Mitro suaranya begitu?"

Sumitro menjelaskan, sejak mahasiswa ia biasa bicara apa adanya, melihat suatu masalah lalu mencari problemnya kemudian mencari pemecahannya. "Dalam hal ini problemnya apa? Banyak. Pemborosan. Orang bilang ekonomi biaya tinggi.

Bagaimana ini, lalu saya cari fakta, dan faktanya memang begitu. Kalau Bapak ingin fakta, tanya pada Biro Pusat Statistik," ucap Sumitro, penerima Bintang Mahaputra Adipradana II.

Dengan nada agak sinis Sumitro menambahkan, "Saya tidak punya antena ke angkasa luar, Pak. Ini hitung-hitungan berdasarkan analisis ilmiah."

"Alhasil, ini bukan pat gulipat, angka 30% bukan datang dari langit, atau dari paranormal Permadi!" tegas Sumitro, yang pada 1953 oleh Sekjen PBB diangkat sebagai anggota lima ahli dunia (group of five top experts).

Presiden memahami penjelasan itu namun ia menekankan, "Tapi, mbok ya jangan disiarkan, Pak Mitro."

Ketika krisis ekonomi semakin memukul Indonesia, akhir 1997, Sumitro kembali membuat pernyataan tajam. Dalam tubuh ekonomi nasional melekat berbagai macam penyakit, seperti distorsi dalam bentuk monopoli, oligopoli, kartel, proteksi yang berlebihan, dan subsidi untuk barang-barang tertentu.

Sumitro melukiskan, "Kalau kita hanya bicara ekonomi moneter, obatnya cukup Aspirin. Tapi kalau institutional disease, sudah perlu antibiotika. Dan saya yakin bisa diatasi dengan antibiotika, tidak perlu sampai diamputasi, karena masih ada kesempatan untuk segera bertindak. Namun, paket untuk mengatasi disease itu harus dilakukan tanpa pandang bulu dan tak boleh ada intervensi." (Kompas, 11/1/1998).

Dicuekin Bu Tien
Menanggapi soal adanya kolusi antara oknum pejabat dengan oknum konglomerat, Sumitro menegaskan, "Saya tidak setuju ada kolusi dengan alasan apa pun. Hal itu harus diberantas!"

Dalam hal ini ia punya pengalaman menarik. Ada pengusaha yang berusaha "menyogok" dengan mengirim bunga kepada istrinya. Di balik bunga itu terselip perhiasan emas dan berlian! Sumitro memanggil sekretarisnya, Babes Sumampouw, "Babes, apa-apaan ini. Kirim kembali, pulangkan!"

Pengusaha itu datang mengeluh, "Pak Mitro, mengapa begitu?" Sumitro pun menjawab, "Hati-hati kamu, ya, lain kali. Kamu masih untung saya menteri. Sembrono kamu, kasih perhiasan kepada istri saya. Enggak ada orang lain yang berhak memberi perhiasan kepada istri saya. Itu 'kan menghina seorang suami."

Pengalaman lain, usai menyelesaikan tender impor cengkeh, Sumitro dikejutkan oleh laporan Ali Moertopo bahwa Ibu Tien Soeharto marah-marah kepadanya. Ibu Tien berharap Sukamdani yang mendapat tender, tapi kenyataannya yang menang Probosutedjo dan Liem Sioe Liong.

Sejak peristiwa itu, lebih dari setahun, Ibu Tien tak mau menegur Sumitro. Kalau mereka berjumpa, Ibu Negara itu melengos, membuang muka. Biarpun begitu, terhadap Dora Sigar, istri Sumitro, sikap Ibu Tien tetap baik dan mau mengajak bicara.


Rendah Hati
Meski lima kali menjabat menteri di masa Orde Lama dan Orde Baru, toh ia tetap rendah hati. Seperti yang terjadi ketika ia menghadiri suatu resepsi pernikahan.

"Monggo ... monggo, Pak, terus lajeng kemawon (Silakan, Pak, terus saja ke depan)," pinta anggota panitia, mempersilakan Prof. Dr. Sumitro Djojohadikusumo yang berada dalam antrean para tamu untuk menyalami mempelai.

"Sampun ... matur nuwun (terima kasih)," tolak Pak Cum, panggilan akrabnya. Sementara itu para tetamu VIP dan mereka yang merasa VIP, saling menyalip maju dan sibuk berfoto ria bersama pengantin.



***

Pada usia menjelang 84 tahun, Sumitro meninggal dunia Jumat (9/3/2001) pukul 00.00 di Rumah Sakit Dharma Nugraha, Rawamangun, Jakarta Timur, setelah beberapa lama dirawat karena sakit jantung. Di bawah iringan gerimis dan tahlil masyarakat, jenazahnya dikebumikan di Pemakaman Umum Karet Bivak, Jakarta Pusat, Jumat (9/3/2001) siang sekitar pukul 14.35. Sedikitnya 1.000 warga sekitar mengikuti prosesi pemakaman.

Tampak hadir melayat antara lain Gus Dur (presiden saat itu), Ketua MPR Amien Rais, KSAD Jenderal TNI Endriartono Sutarto, Ketua DPR Akbar Tandjung, pengusaha Ciputra, bekas Mentrans AM Hendropriyono, Pangkostrad Letjen TNI Ryamizard Ryacudu, Soeripto, Letjen (Purn) Sayidiman, bekas Pangkostrad Jenderal (Purn) Kemal Idris, Wakasad Letjen Kiki Syahnakri, bekas Menkeu Radius Prawiro, Menkimpraswil Erna Witoelar, Menko Perekonomian Rizal Ramli, dan Gubernur BI Syahril Sabirin. ►atur

Kamis, 01 Januari 2009

Sayid Abu Muhammad Abdul Qadir ( syekh abdul qodir al Jaelani)

NASAB

Sayid Abu Muhammad Abdul Qadir dilahirkan di Naif, Jailan, Iraq, pada bulan Ramadhan 470 H, bertepatan dengan th 1077 M. Ayahnya bernama Shahih, seorang yang taqwa keturunan Hadhrat Imam Hasan, r.a., cucu pertama Rasulullah saw, putra sulung Imam Ali ra dan Fatimah r.a., putri tercinta Rasul. Ibu beliau adalah putri seorang wali, Abdullah Saumai, yang juga masih keturunan Imam Husein, r.a., putera kedua Ali dan Fatimah. Dengan demikian, Sayid Abdul Qadir adalah Hasani sekaligus Huseini.

MASA MUDA

Sejak kecil, ia pendiam, nrimo, bertafakkur dan sering melakukan agar lebih baik, apa yang disebut 'pengalaman-pengalaman mistik'. Ketika berusia delapan belas tahun, kehausan akan ilmu dan kegairahan untuk bersama para saleh, telah membawanya ke Baghdad, yang kala itu merupakan pusat ilmu dan peradaban. Kemudian, beliau digelari orang Ghauts Al-Azam atau wali ghauts terbesar.

Dalam terminologi kaum sufi, seorang ghauts menduduki jenjang ruhaniah dan keistimewaan kedua dalam hal memohon ampunan dan ridha Allah bagi ummat manusia setelah para nabi. Seorang ulama' besar di masa kini, telah menggolongkannya ke dalam Shaddiqin, sebagaimana sebutan Al Qur'an bagi orang semacam itu. Ulama ini mendasarkan pandangannya pada peristiwa yang terjadi pada perjalanan pertama Sayyid Abdul Qadir ke Baghdad.

Diriwayatkan bahwa menjelang keberangkatannya ke Baghdad, ibunya yang sudah menjanda, membekalinya delapan puluh keping emas yang dijahitkan pada bagian dalam mantelnya, persis di bawah ketiaknya, sebagai bekal. Uang ini adalah warisan dari almarhum ayahnya, dimaksudkan untuk menghadapi masa-masa sulit. Kala hendak berangkat, sang ibu diantaranya berpesan agar jangan berdusata dalam segala keadaan. Sang anak berjanji untuk senantiasa mencamkan pesan tersebut.

Begitu kereta yang ditumpanginya tiba di Hamadan, menghadanglah segerombolan perampok. Kala menjarahi, para perampok sama sekali tak memperhatikannya, karena ia tampak begitu sederhana dan miskin. Kebetulan salah seorang perampok menanyainya apakah ia mempunyai uang atau tidak. Ingat akan janjinya kepada sang ibu, si kecil Abdul Qadir segera menjawab: "Ya, aku punya delapan puluh keping emas yang dijahitkan di dalam baju oleh ibuku." Tentu saja para perampok terperanjat keheranan. Mereka heran, ada manusia sejujur ini.

Mereka membawanya kepada pemimpin mereka, lalu menanyainya, dan jawabannya pun sama. Begitu jahitan baju Abdul Qadir dibuka, didapatilah delapan puluh keping emas sebagaimana dinyatakannya. Sang kepala perampok terhenyak kagum. Ia kisahkan segala yang terjadi antara dia dan ibunya pada saat berangkat, dan ditambahkannya jika ia berbohong, maka akan tak bermakna upayanya menimba ilmu agama.

Mendengar hal ini, menangislah sang kepala perampok, jatuh terduduk di kali Abdul Qadir, dan menyesali segala dosa yang pernah dilakukan. Diriwayatkan, bahwa kepala perampok ini adalah murid pertamanya. Peristiwa ini menunjukkan proses menjadi Shiddiq. Andaikata ia tak benar, maka keberanian kukuh semacam itu demi kebenaran, dalam saat-saat kritis, tak mungkin baginya.

BELAJAR DI BAGHDAD

Selama belajar di Baghdad, karena sedemikian jujur dan murah hati, ia terpaksa mesti tabah menderita. Berkat bakat dan kesalehannya, ia cepat menguasai semua ilmu pada masa itu. Ia membuktikan diri sebagai ahli hukum terbesar di masanya. Tetapi, kerinduan ruhaniahnya yang lebih dalam gelisah ingin mewujudkan diri. Bahkan di masa mudanya, kala tenggelam dalam belajar, ia gemar musyahadah 1).

Ia sering berpuasa, dan tak mau meminta makanan dari seseorang, meski harus pergi berhari-hari tanpa makanan. Di Baghdad, ia sering menjumpai orang-orang yang berfikir serba ruhani, dan berintim dengan mereka. Dalam masa pencarian inilah, ia bertemu dengan Hadhrat Hammad, seorang penjual sirup, yang merupakan wali besar pada zamannya.

Lambat laun wali ini menjadi pembimbing ruhani Abdul Qadir. Hadhrat Hammad adalah seorang wali yang keras, karenanya diperlakukannya sedemikian keras sufi yang sedang tumbuh ini. Namun calon ghauts ini menerima semua ini sebagai koreksi bagi kecacatan ruhaninya.

LATIHAN-LATIHAN RUHANIAH

Setelah menyelesaikan studinya, ia kian keras terhadap diri. Ia mulai mematangkan diri dari semua kebutuhan dan kesenangan hidup. Waktu dan tenaganya tercurah pada shalat dan membaca Qur'an suci. Shalat sedemikian menyita waktunya, sehingga sering ia shalat shubuh tanpa berwudhu lagi, karena belum batal.

Diriwayatkan pula, beliau kerapkali tamat membaca Al-Qur'an dalam satu malam. Selama latihan ruhaniah ini, dihindarinya berhubungan dengan manusia, sehingga ia tak bertemu atau berbicara dengan seorang pun. Bila ingin berjalan-jalan, ia berkeliling padang pasir.

Akhirnya ia tinggalkan Baghdad, dan menetap di Syustar, dua belas hari perjalanan dari Baghdad. Selama sebelas tahun, ia menutup diri dari dunia. Akhir masa ini menandai berakhirnya latihannya. Ia menerima nur yang dicarinya. Diri-hewaninya kini telah digantikan oleh wujud mulianya.

DICOBA IBLIS

Suatu peristiwa terjadi pada malam babak baru ini, yang diriwayatkan dalam bentuk sebuah kisah. Kisah-kisah serupa dinisbahkan kepada semua tokoh keagamaan yang dikenal di dalam sejarah; yakni sebuah kisah tentang penggodaan. Semua kisah semacam itu memaparkan secara perlambang, suatu peristiwa alamiah dalam kehidupan.

Misal, tentang bagaimana nabi Isa as digoda oleh Iblis, yang membawanya ke puncak bukit dan dari sana memperlihatkan kepadanya kerajaan-kerajaan duniawi, dan dimintanya nabi Isa a.s., menyembahnya, bila ingin menjadi raja dari kerajaan-kerajaan itu. Kita tahu jawaban beliau, sebagai pemimpin ruhaniah. Yang kita tahu, hal itu merupakan suatu peristiwa perjuangan jiwa sang pemimpin dalam hidupnya.

Demikian pula yang terjadi pada diri Rasulullah saw. Kala beliau kukuh berdakwah menentang praktek-praktek keberhalaan masyarakat dan musuh-musuh beliau, para pemimpin Quraisy merayunya dengan kecantikan, harta dan tahta. Dan tak seorang Muslim pun bisa melupakan jawaban beliau: "Aku sama sekali tak menginginkan harta ataupun tahta. Aku telah diutus oleh Allah sebagai seorang Nadzir 2) bagi umat manusia, menyampaikan risalah-Nya kepada kalian. Jika kalian menerimanya, maka kalian akan bahagia di dunia ini dan di akhirat kelak. Dan jika kalian menolak, tentu Allah akan menentukan antara kalian dan aku."

Begitulah gambaran dari hal ini, dan merupakan fakta kuat kemaujudan duniawi. Berkenaan dengan hal ini, ada dua versi kisah tentang Syaikh Abdul Qadir Jailani. Versi pertama mengisahkan, bahwa suatu hari Iblis menghadapnya, memperkenalkan diri sebagai Jibril, dan berkata bahwa ia membawa Buraq dari Allah, yang mengundangnya untuk menghadap-Nya di langit tertinggi.

Sang Syaikh segera menjawab bahwa si pembicara tak lain adalah si Iblis, karena baik Jibril maupun Buraq takkan datang ke dunia bagi selain Nabi Suci Muhammad saw. Setan toh masih punya cara lain, katanya: "Baiklah Abdul Qadir, engkau telah menyelamatkan diri dengan keluasan ilmumu." "Enyahlah!, bentak sang wali." Jangan kau goda aku, bukan karena ilmuku, tapi karena rahmat Allahlah aku selamat dari perangkapmu".

1) Musyahadah : penyaksian langsung. Yang dimaksud ialah penyaksian akan segala kekuasaan dan keadilan Allah melalui mata hati.

2) Nadzir : pembawa ancaman atau pemberi peringatan. Salah satu tugas terpenting seorang Rasul adalah membawa beita, baik berita gembira maupun ancaman.
________________________________________
Versi kedua mengisahkan, ketika sang Syaikh sedang berada di rimba belantara, tanpa makanan dan minuman, untuk waktu yang lama, awan menggumpal di angkasa, dan turunlah hujan. Sang Syaikh meredakan dahaganya. Muncullah sosok terang di cakrawala dan berseru: "Akulah Tuhanmu, kini Kuhalalkan bagimu segala yang haram."

Sang Syaikh berucap: "Aku berlindung kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk." Sosok itu pun segera pergi berubah menjadi awan, dan terdengar berkata: "Dengan ilmumu dan rahmat Allah, engkau selamat dari tipuanku."

Lalu setan bertanya tentang kesigapan sang Syaikh dalam mengenalinya. Sang Syaikh menyahut bahwa pernyataannya menghalalkan segala yang haramlah yang membuatnya tahu, sebab pernyataan semacam itu tentu bukan dari Allah.

Kedua versi ini benar, yang menyajikan dua peristiwa berlainan secara perlambang. Satu peristiwa dikaitkan dengan perjuangannya melawan kebanggaan akan ilmu. Yang lain dikaitkan dengan perjuangannya melawan kesulitan-kesulitan ekonomi, yang menghalangi seseorang dalam perjalanan ruhaniahnya.

Kesadaran aka kekuatan dan kecemasan akan kesenangan merupakan kelemahan terakhir yang mesti enyah dari benak seorang salih. Dan setelah berhasil mengatasi dua musuh abadi ruhani inilah, maka orang layak menjadi pemimpin sejati manusia.

PANUTAN MASYARAKAT

Kini sang Syaikh telah lulus dari ujian-ujian tersebut. Maka semua tutur kata atau tegurannya, tak lagi berasal dari nalar, tetapi berasal dari ruhaninya.

Kala ia memperoleh ilham, sebagaimana sang Syaikh sendiri ingin menyampaikannya, keyakinan Islami melemah. Sebagian muslim terlena dalam pemuasan jasmani, dan sebagian lagi puas dengan ritus-ritus dan upacara-upacara keagamaan. Semangat keagamaan tak dapat ditemui lagi.

Pada saat ini, ia mempunyai mimpi penting tentang masalah ini. Ia melihat dalam mimpi itu, seolah-olah sedang menelusuri sebuah jalan di Baghdad, yang di situ seorang kurus kering sedang berbaring di sisi jalan, menyalaminya.

Ketika sang Syaikh menjawab ucapan salamnya, orang itu memintanya untuk membantunya duduk. Begitu beliau membantunya, orang itu duduk dengan tegap, dan secara menakjubkan tubuhnya menjadi besar. Melihat sang Syaikh terperanjat, orang asing itu menentramkannya dengan kata-kata: " Akulah agama kakekmu, aku menjadi sakit dan sengsara, tetapi Allah telah menyehatkanku kembali melalui bantuanmu."

Ini terjadi pada malam penampilannya di depan umum di masjid, dan menunjukkan karir mendatang sang wali. Kemudian masyarakat tercerahkan, menamainya Muhyiddin, 'pembangkit keimanan', gelar yang kemudian dipandang sebagai bagian dari namanya yang termasyhur. Meski telah ia tinggalkan kesendiriannya (uzlah), ia tak jua berkhutbah di depan umum. Selama sebelas tahun berikutnya, ia mukim di sebuah sudut kota, dan meneruskan praktek-praktek peribadatan, yang kian mempercerah ruhaniyah.

KEHIDUPAN RUMAH TANGGA

Menarik untuk dicatat, bahwa penampilannya di depan umum selaras dengan kehidupan perkawinannya. Sampai tahun 521 H, yakni pada usia kelima puluh satu, ia tak pernah berpikir tentang perkawinannya. Bahkan ia menganggapnya sebagai penghambat upaya ruhaniyahnya. Tetapi, begitu beliau berhubungan dengan orang-orang, demi mematuhi perintah Rasul dan mengikuti Sunnahnya, ia pun menikahi empat wanita, semuanya saleh dan taat kepadanya. Ia mempunyai empat puluh sembilan anak - dua puluh putra, dan yang lainnya putri.

4 (empat) putranya yang termasyhur akan kecendekian dan kepakarannya, antara lain :

• Syaikh Abdul Wahab, putera tertua adalah seorang alim besar, dan mengelola madrasah ayahnya pada tahun 543 H. Sesudah sang wali wafat, ia juga berkhutbah dan menyumbangkan buah pikirannya, berkenaan dengan masalah-masalah syariat Islam. Ia juga memimpin sebuah kantor negara, dan demikian termasyhur.

• Syaikh Isa, ia adalah seorang guru hadits dan seorang hakim besar. Dikenal juga sebagai seorang penyair. Ia adalah seorang khatib yang baik, dan juga Sufi. Ia mukim di Mesir, hingga akhir hayatnya.

• Syaikh Abdul Razaq. Ia adalah seorang alim, sekaligus penghafal hadits. Sebagaimana ayahnya, ia terkenal taqwa. Ia mewarisi beberapa kecenderungan spiritual ayahnya, dan sedemikian masyhur di Baghdad, sebagaimana ayahnya.

• Syaikh Musa. Ia adalah seorang alim terkenal. Ia hijrah ke Damaskus, hingga wafat.
Tujuh puluh delapan wacana sang wali sampai kepada kita melalui Syaikh Isa. Dua wacana terakhir, yang memaparkan saat-saat terakhir sang wali, diriwayatkan oleh Syaikh Wahab. Syaikh Musa termaktub pada wacana ke tujuh puluh sembilan dan delapan puluh. Pada dua wacana terakhir nanti disebutkan, pembuatnya adalah Syaikh Abdul Razaq dan Syaikh Abdul Aziz, dua putra sang wali, dengan diimlakkan oleh sang wali pada saat-saat terakhirnya.

KESEHARIANNYA

Sebagaimana telah kita saksikan, sang wali bertabligh tiga kali dalam seminggu. Di samping bertabligh setiap hari, pada pagi dan malam hari, ia mengajar tentang Tafsir Al Qur'an, Hadits, Ushul Fiqih, dan mata pelajaran lain. Sesudah Dhuhur, ia memberikan fatwa atas masalah-masalah hukum, yang diajukan kepadanya dari segenap penjuru dunia. Sore hari, sebelum sholat Maghrib, ia membagi-bagikan roti kepada fakir miskin. Sesudah sholat Maghrib, ia selalu makan malam, karena ia berpuasa sepanjang tahun. Sebalum berbuka, ia menyilakan orang-orang yang butuh makanan di antara tetangga-tetangganya, untuk makan malam bersama.
Sesudah sholat Isya', sebagaimana kebiasaan para wali, ia mengaso di kamarnya, dan melakukan sebagian besar waktu malamnya dengan beribadah kepada Allah - suatu amalan yang dianjurkan Qur'an Suci. Sebagai pengikut sejati Nabi, ia curahkan seluruh waktunya di siang hari, untuk mengabdi ummat manusia, dan sebagian besar waktu malam dihabiskan untuk mengabdi Penciptanya.

WAFATNYA
Ia wafat pada 11 Rabi'ul Akhir 561 H (1166 M), pada usia 91 tahun. Tanggal ini diperingati oleh para pengagumnya sampai kini, dan anak benua India (Pakistan), dikenal sebagai Giarwin Syarif.

PENINGGALANNYA

Sepeninggal sang wali, para putra dan muridnya mendirikan suatu Thariqah, untuk menyuburkan spiritualitas Islami dan ajaran-ajaran Islami di kalangan umat dunia, yakni Thariqah Qadiriyah, yang sampai kini terkenal taat kepada prinsip-prinsip syari'at. Thariqah ini telah sedemikian besar jasanya bagi kebangkitan kembali 'dunia Islam', dan sumbangannya kepada Tasawuf tak terhingga. Tiga diantara catatan-catatan nasihat dan pengajarannya mencapai reputasi dunia. Yang paling luar biasa adalah FUTUH AL-GHAIB.

Selain itu, Fath al-Rabbani, kumpulan enam puluh delapan khutbah, yang disampaikan antara tahun 545 H dan 546 H. Yang ketiga adalah sebuah QASIDAH, sebuah syair yang memaparkan peranan dan peringkat wali dalam bahasa ekstatik. Syair ini disebut Qasidah al-Ghautsiyya.
Sebagaimana thariqah lain, Thariqah Qadiriyah dewasa ini, tampak lebih cenderung kepada risalah terakhir ini, dari pada karya-karya lainnya, yang memuat nasihat-nasihat tentang pembangunan diri, dan sebuah pesan dari alam ghaib.

Terlepas dari kekeliruan-kekeliruan pada para pengagumnya dewasa ini, pengaruh sang wali dalam sejarah Islami luar biasa. Kepribadiannya gemerlapan laksana zamrud berkilauan dari spiritualitas Islami dewasa ini, sebagaimana pada sejarah masa lalu


http://journal9.biz/home/artikel/religi-islam/riwayat-syech-abdul-qadir-jailani.htm

null

Rabu, 26 November 2008

Sri Sultan Hamengku Buwono X

Sri Sultan Hamengku Buwono X

By pemiluindonesia.com on September 30th, 2008



Sri Sultan Hamengku Buwono X

Ia raja yang dikenal dekat dengan rakyatnya. Menurutnya, keberpihakan pada rakyat itu harus dilakukan sebagai suatu panggilan. Raja yang demokrat ini berperan penting dalam bergulirnya reformasi dengan deklarasi Ciganjur bersama Gus Dur, Megawati dan Amien Rais. Namun, ia kini gelisah melihat petinggi negeri ini yang tidak bersikap kesatria mau mengakui kesalahan jika memang bersalah. Priyai agung yang merakyat ini menjadi salah seorang kandidat Presiden pada Pemilu 2004.

Lahir dengan nama Bendoro Raden Mas Herjuno Darpito pada tanggal 2 April 1946. Setelah dewasa bergelar Kanjeng Gusti Pangeran Haryo (KGPH) Mangkubumi dan setelah diangkat sebagai putra mahkota diberi gelar KGPAA Hamengku Negara Sudibyo Raja Putra Nalendra Mataram. Lulusan Fakultas Hukum UGM ini dinobatkan sebagai raja di Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat dengan gelar Sri Sultan Hamengku Buwono X pada tanggal 7 Maret 1989 (Selasa Wage 19 Rajab 1921) mengantikan ayahnya, Sri Sultan HB IX yang meninggal di Amerika, Oktober 1988. Kemudian menjabat Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta, sejak 3 Oktober 1998.

Aktif dalam berbagai organisasi yaitu ketua umum Kadinda DIY, ketua DPD Golkar DIY, ketua KONI DIY, Dirut PT Punokawan yang bergerak dalam bidang jasa konstruksi, Presiden Komisaris PG Madukismo, dan pada bulan Juli 1996 diangkat sebagai Ketua Tim Ahli Gubernur DIY.

Nama:
Sri Sultan Hamengku Buwono X

Nama Asli:
Bandoro Raden Mas (BRM) Herdjuno Darpito

Lahir:
Yogyakarta, 2 Maret 1946

Agama:
Islam

Ayah:
Sri Sultan Hamengku Buwono IX

Istri:
Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Hemas

Anak:
1. Gusti Raden Ajeng (GRAJ) Nurmalita Sari
2. Gusti Raden Ayu (GRAy) Nurma Gupita
3. Gusti Raden Ajeng (GRAJ) Nurkamnari Dewi
4. Gusti Raden Ajeng (GRAJ) Nurabra Juwita
5. Gusti Raden Ajeng (GRAJ) Nur Astuti Wijareni

Pendidikan:
Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta

Pekerjaan:
- Anggota MPR sejak Tahun 1992
- Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta, sejak 3 Oktober 1998 – Sekarang
- Sri Sultan Hamengku Buwono X, dinobatkan 7 Maret 1989

Karya Ilmiah:
- Kerangka Konsepsi Politik Indonesia (1989)
- Bercermin Di Kalbu Rakyat (1999)

LETJEN TNI (PURN) DR (HC) H SUTIYOSO, SH

LETJEN TNI (PURN) DR (HC) H SUTIYOSO, SH

By pemiluindonesia.com on November 4th, 2008




BIODATA :

Nama: LETJEN TNI (PURN)DR(HC) H SUTIYOSO, SH
Lahir: Semarang, 6 Desember 1944
Agama : Islam
Jabatan : Gubernur DKI Jakarta 1997-2007
Pangkat Militer terakhir: Letnan Jenderal TNI
Istri: Setyorini (Menikah 1974)

Anak:
- Yessy Riana Dilliyanti
- Renny Yosnita Ariyanti

Ayah: Tjitrodihardjo
Ibu: Sumini

PENDIDIKAN :

- Sekolah Dasar, 1955
- Sekolah Menengah Pertama, 1959
- Sekolah Menengah Atas, 1963
- Fakultas Tekhik Jurusan Teknik Sipil, Untag Semarang, 1964 (hanya satu tahun)
- Akademi Militer Nasional, Magelang, 1968
- Kursus Sussarcab, 1969
- Kursus Suslapa Infantri, 1978
- Pendidikan Seskoad, 1984
- Pendidikan Seskogab, 1990
- Kursus Lemhanas, 1994
- Doktor Kehormatan (Honoris Causa) Bidang Ilmu Politik, dari Universitas Busan, Korea Selatan, tahun 2001

PENUGASAN MILITER :

- Operasi PGRS/Paraku (1969)
- Operasi Flamboyan, Timtim (1975)
- Operasi Aceh Merdeka (1978)

KARIR :

- Asisten Personel Kopassus, 1988
- Asisten Operasi Kopassus, 1990
- Asisten Operasi Kepala staf ” Kostrad, 1991
- Wakil Komandan Jenderal Kopassus, 1992
- Komandan Korem 062 Suryakencana, Bogor, 1993
- Kepala Staff Kodam Jaya, Maret, 1994
- Pangdam Jaya, April 1996
- Gubernur DKI Jakarta, 1997-2002
- Gubernur DKI Jakarta, 2002-2007

PENUGASAN LUAR NEGERI :

- Ke Republik Korea Tahun 1982
- Ke Kerajaan Inggris, menjalani on the job training di Airbone, . 1987
- Ke Australia 1989 o Ke Amerika Serikat tahun 1991, menjalani latihan loncat terjun payung bersama tentara Amerika di Fortbragg

ORGANISASI OLAHRAGA :

- Ketua Pelaksana Harian Perbakad
- Ketua Umum PB PERBAKIN, 1997 s/d 2001
- Pembina Persija Jakarta, hingga saat ini
- Ketua Umum PB PERBASI, sampai 2004
- Ketua Umum Damai Indan Golf
- Ketua Umum Independent Golf
- Ketua Umum PB PBSI, 2004-2008

ORGANISASI PEMERINTAHAN :

- Gubernur DKI Jakarta
- Ketua Umum Asosiasi Pemerintahan Propinsi Seluruh Indonesia

PENGHARGAAN :

- COM VIII / Dharma Pala
- Seroja
- Kesetiaan VIII Tahun
- Penegak G 30S PKI
- Kesetiaan XVI Tahun
- Dwija Sistha Kesetiaan XXIV Tahun
- Bintang Kep. Narayya
- Satyalancana Mahaputera Utama
- The Award of Honor of The Presdent of Ukraina
- Manggala Karya Kencana
- Satyalancana Wira karya
- Penghargaan sebagai Danrem Terbaik se-Indonesia, 1994
- Penghargaan sebagai “Gubernur Pembuat berita Terpopuler Indonesia 2002″
- Penghargaan “satu-satunya Gubernur di Indonesia yang Mengalami Lima Kali Pergantian Presiden”, dari Museum Rekor Indonesia (MURI), tahun 2004, “Habitat Scroll of Honour Award 2005″ dari UN Habitat.

HOBBY :

- Bulutangkis, Tenis, Golf, Menembak, Basketball, dan Sepakbola.

Masa Kecil Sutiyoso

Sutiyoso dilahirkan pada tanggal 6 Desember 1944 di sebuah dusun kecil bernama Pongangan yang terletak di daerah perbukitan di Jawa Tengah, sekitar 12 km dari kota Semarang. Kedua orang tuanya, Tjitrohardjo dan Sumini, memberikan nama tersebut karena Yoso, dalam bahasa Jawa bermakna memiliki atau kaya. Ayahnya mengharapkan agar anaknya kelak dapat mempertahankan kemapanan kehidupan keluarga mereka, bahkan bisa lebih baik lagi sesuai dengan tantangan jaman.

Di tempat kelahirannya itu, anak keenam dari delapan bersaudara ini menjalani masa kecilnya, dimana setiap hari, selain hari libur, ayahnya mendidik dan mengajar anak-anak desa yang ada di dusun Pongangan dan sekitarnya. Kebetulan memang ayah Sutiyoso adalah seorang Kepala Sekolah, sekaligus guru Sekolah Dasar di Pongangan.

Sutiyoso cilik memang dikenal sebagai anak yang bandel. Secara tak sengaja ia selalu berhasil membuat marah ayahnya, apakah karena ia secara teledor bermain-main menunggangi kudanya padahal ia sendiri belum terlalu jago menguasainya, atau sampai menjual kambing peliharaan demi membeli sebuah layang-layang. Semua ini hanyalah sikap anak-anaknya yang senang bermain tanpa peduli akan konsekuensi yang dihasilkan.

Namun ayahnya merespon dengan keras terhadap perilaku anaknya yang bandel. Hukuman yang diterima Sutiyoso bermacam-macam, dari tidak boleh makan siang dan dikurung dalam kamar, sampai diikat di pohon besar untuk beberapa jam lamanya. Sebagai seorang pendidik pada masa pemerintahan Belanda dan Jepang, ayah Sutiyoso memang terkenal keras dalam mendidik anak-anaknya. Teringat oleh Sutiyoso, kala ia masih duduk di sekolah dasar. Saat pembagian rapor, ketika ayahnya melihat nilainya pas-pasan, Sutiyoso langsung mendapat hadiah spesial berupa hukuman.

Walaupun hukuman-hukuman tersebut cukup parah, sesekali ia juga sering dipukuli, Sutiyoso justru tidak kapok. Menjelang remaja ia malah tumbuh menjadi anak yang doyan berkelahi. Khusus untuk mengasah hobinya ini, Sutiyoso seringkali rajin berlatih bak seorang petinju profesional, dengan sansak yang terbuat dari karung berisi pasir.

Walau sikapnya pemberontak, namun tetap selepas SMA, Sutiyoso, seperti layaknya anak yang berbakti, menuruti kemauan orangtuanya dan pada tahun 1964 ia mendaftar ke Fakultas Teknik Universitas Tujuh Belas Agustus (Untag). Pada masa itu memang dokter dan insinyur adalah profesi yang sangat dihormati dan identik dengan kesuksesan hidup, sehingga kebanyakan orangtua akan merasa bangga apabila melihat anak mereka dapat menjadi seorang dokter atau insinyur. Selain itu, ayah Sutiyoso, menuruti falsafah Jawa tentang kehidupan, ingin melihat anaknya terarahkan menjadi “orang” di kemudian hari.

Padahal sebenarnya Sutiyoso lebih memilih menjadi tentara, seperti kakaknya yang masuk Tentara Pelajar. Tapi karena kekhawatiran sang ibu yang mengatakan kalau menjadi tentara berarti cepat mati, maka Sutiyoso pun mengurungkan niatnya itu.

Selama masa-masanya kuliah, keinginannya untuk menjadi tentara semakin menggebu-gebu. Akibatnya, ia pun menjalani kuliahnya dengan setengah hati. Berangkat dari rumah penampilannya memang seperti remaja yang benar-benar ingin kuliah, namun sebenarnya tidak demikian. Hobi berkelahinya malah menjadi-jadi. Dia tetap kuliah, hanya karena tidak ingin mengecewakan ibunya.

Walau begitu, Sutiyoso tetap mengontemplasikan akan pilihannya dalam hidup. Apakah menuruti kemauan kedua orangtua untuk kuliah di Teknik Sipil meskipun ia tidak menikmatinya, atau menuruti kemauan hati dan pindah haluan menjadi tentara. Kekhawatiran ibunya memang dapat dimengerti karena ia sempat trauma mengetahui bagaimana tentara Indonesia disiksa oleh tentara Belanda. Ibunya mengatakan, cukup satu anaknya saja yang menjadi seorang marinir.

Tanpa diduga, kebetulan pada saat itu ada pembukaan pendaftaran AMN (Akademi Militer Nasional) di Magelang, Jawa Tengah. Akhirnya, ia telah membulatkan tekadnya. Ia akan menjadi seorang tentara. Sutiyoso nekad mendaftarkan diri dan mengikuti tes AMN, mulai dari tingkat Kodam Diponegoro. Lolos di tingkat Kodam, ia menjalani tes lanjutan di Bandung dan terakhir di Lembang (Bandung bagian Utara). Segala tes itu ia lakukan tanpa sepengetahuan orangtuanya.

Akhirnya, Sutiyoso diterima sebagai Prajurit Taruna (Pratar). Baru pada saat itulah, sekembalinya ia ke Magelang, ia menyurati orangtuanya kalau ia diterima menjadi Pratar di AMN Magelang.

Sutiyoso akhirnya bertemu dengan orangtuanya ketika ia dilantik menjadi taruna. Tanpa diduga, ibunya justru malah menangis bahagia melihat anaknya telah berhasil menjadi sesuatu, melihat dengan gigih ia mewujudkan mimpinya. Sementara sang ayah juga merasa bangga karena didikan kerasnya membuat anaknya menjadi kuat dan mandiri.

Karier Militer

Merah Putih dan Petaruhan Nyawa di Pasukan Elit

Pada tahun 1971 Sutiyoso diwisuda menjadi seorang perwira muda TNI Angkatan Darat dengan pangkat Letnan Dua. Itulah awal kebahagiaan setelah tiga tahun digembleng dengan keras di kawasan Gunung Tidar (kampus AMN-Akademi Militer Nasional) Magelang, Jawa Tengah.

Sutiyoso kemudian ditawari pilihan karier dan kesatuan yang diminatinya - melalui penelusuran bakat dan kemampuan. Karena tidak mau setengah-setengah, dan juga karena mengingat pesan orangtua yang mengatakan jangan tanggung-tanggung apabila melakukan sesuatu, Sutiyoso memilih kesatuan infantri di angket yang disediakan, yaitu kesatuan tempur yang berada di garis depan.

Setelah menjalani pendidikan di kesatuan infanteri, setiap perwira muda diberikan pilihan untuk memilih ke Kodam, Kopassus atau Infanteri. Sutiyoso sendiri memilih ke Kopassus, karena merupakan pasukan elit. Untuk menjadi anggota Kopassus ternyata tidak mudah. Seleksinya sangat ketat. Dia harus menjalani berbagai tes, sebelum diterima. Setelah lolos seleksi, Sutiyoso bersama 22 orang seangkatannya diterima sebagai anggota korps Baret Merah, Kopassus (Komando Pasukan Khusus).

Pada masa itu sosok Sutiyoso agak menonjol karena statusnya yang lajang. Sementara perwira muda lainnya telah menikah setelah dua tahun menjadi prajurit. Ia memberikan alasan supaya ia memiliki waktu lebih banyak untuk belajar, latihan dan menjalankan tugas sebagai seorang pasukan elit. Pada saat operasi militer di Sulawesi, Kalimantan dan Timor Timur, Sutiyoso bertugas membela negara tanpa mesti merisaukan keluarganya, karena nyawanya sendirilah yang menjadi taruhan. Tak Cuma itu, terkadang pimpinan kesatuan akan menunjuk Sutiyoso ketika ia sedang kesulitan mencari anggota pasukan khususnya dengan alasan ia masih lajang.

Namun Sutiyoso akhirnya juga menikah ketika ia telah menjadi Komandan Kompi dengan pangkat Kapten. Sutiyoso menyunting seorang gadis dari Jawa Tengah bernama Setyorini dan pada tahun 1974 mereka pun menikah. Pernikahan itu memberikannya dua anak perempuan.

Dili dan Kenangan Tak Terlupakan

Sebagai anggota pasukan elit, Sutiyoso banyak diterjunkan dalam berbagai operasi militer di daerah operasi. Seperti Operasi PGRS/PARAKU di Kalimantan Barat, Operasi Flamboyan dan Operasi Penumpasan GAM (Gerakan Aceh Merdeka) di Daerah Istimewa Aceh (kini Nangro Aceh Darussalam), serta Operasi Seroja di Timor Timur. Namun, dari berbagai pengalaman dalam menumpas Gerakan Pengacau Keamanan (GPK) atau gerakan separatis lainnya di daerah operasi, operasi di Timor Timur yang paling berkesan bagi Sutiyoso.

Di sanalah Sutiyoso mempertaruhkan karier dan nyawanya sebagai seorang pasukan elit Baret Merah. Ia menemukan medan operasi yang sangat berat, dan yang lebih berat lagi, musuhnya tak hanya bersembunyi di daerah pegunungan, tetapi juga berbaur dengan masyarakat setempat. Akibatnya cukup sulit membedakan antara masyarakat biasa, klandestein (mata-mata) dan anggota gerakan yang ingin merdeka.

Karena begitu terkesan dalam penugasan di Timor Timur, Sutiyoso pun menyelipkan nama kota Dilli, kini ibukota Timor Timur, diantara nama putri pertamanya, Yessi Riana Dilliyanti, yang lahir di Magelang, 8 Juni 1975.

Lima Jabatan Level Kolonel

Selain berbagai penugasan di daerah operasi, Sutiyoso juga sering dikirim mengikuti sekolah atau kursus di luar negeri. Antara lain ke Republik Korea (1982), Australia (1989) dan Amerika Serikat (1991).

Berbagai penugasan di daerah operasi, maupun mengikuti berbagai kursus militer, membuat Sutiyoso memiliki ilmu dan kelebihan lainnya dibandingkan rekan seangkatan atau perwira selevelnya. Hal itu membuat karier militer Sutiyoso lebih cemerlang dibandingkan rekan-rekan satu angkatan. Kenaikan pangkat Sutiyoso lebih cepat dari rekan seangkatannya sampai level Kolonel.

Namun, setelah itu, pangkatnya “macet” di Kolonel. Sutiyoso sampai mengalami lima jabatan level Kolonel selama enam tahun. Mulai dari menjadi Aspers (Asisten Personil) Kopassus, Asops (Asisten Operasi) Kopassus, Asops Kostrad, Wadanjen Grup Kopassus, hingga Danrem 062 Suryakencana Bogor.

Mandeknya pangkat kolonel itu, menurut Sutiyoso, karena tersumbatnya Angkatan ‘65. “Di angkatan tersebut ada Pak Tarub, Pak Soeyono dan lain-lain. Bila ada job dari angkatan Pak Tarub Cs, dioper lagi ke teman seangkatannya,” ungkap Sutiyoso.

Ini berbeda dengan Prabowo Subianto yang tidak ada sumbatan angkatan di atasnya, sehingga Wiranto pun satu angkatan dengan dengannya. Hal ini karena ketentuan Angkatan ‘65 sama dengan Angkatan ‘68. “Personil angkatan ‘65 itu 500 orang. Ibaratnya kita melempar sandal pun, akan jatuh ke kepala Angkatan ‘65,” ujar Sutiyoso.

Sukses Mengamankan KTT APEC

Setelah menjabat Danrem Suryakencana Bogor baru pangkat kolonel Sutiyoso “pecah telur”, menjadi Brigjen. Naiknya pangkat dan jabatan Sutiyoso itu, menurut rekan-rekanya, lebih karena prestasinya ketika menjadi Danrem 062 Suryakencana Bogor. Sutiyoso dinilai berhasil mengamankan pelaksanaan acara berskala internasional yang menjadi sorotan dunia, KTT APEC di Bogor pada tahun 1993. Ketika itu, para kepala negara dan kepala pemerintahan anggota APEC hadir, termasuk Presiden Amerika Serikat Bill Clinton.

Setahun kemudian (1994) setelah keberhasilannya, Sutiyoso menerima penghargaan sebagai Danrem Terbaik Se-Indonesia. Sejak Desember 1994, dia dipromosikan menjadi Kasdam Jaya di Jakarta dengan pangkat Brigjen. Sejak itu bintangnya terus bersinar. Dua tahun setelah itu, tepatnya 19 Maret 1996, Sutiyoso dipercaya menjadi Pangdam Jaya, posisi yang sangat strategis dari seluruh Pangdam di Indonesia.

Ketika ditanyai komentarnya soal keberhasilan mengamankan KTT APEC dan mendapatkan penghargaan sebagai Danrem terbaik se-Indonesia, Sutiyoso menjawab dengan rendah hati, “Saya hanya melakukan yang terbaik untuk bangsa dan negara ini, dan kebetulan ada momentum yang mendukung.”

Sutiyoso boleh jadi menunjukkan sikap rendah hati. Namun, sebelum event KTT APEC, dia baru saja lulus dari Lemhanas KRA XXVI-1993. Banyak teori yang diperolehnya selama kursus Lemhanas yang bisa langsung diterapkan untuk mensukseskan pengamanan KTT APEC.

Selain itu, penghargaan Danrem Terbaik juga bukan semata hanya keberhasilannya mengamankan KTT APEC. Tetapi juga karena keberhasilannya dalam menjaga stabilitas dan keamanan di daerah teritorialnya. Sebagai Danrem, Sutiyoso berhasil menjadi mediator dalam kasus Rancamaya, yaitu sengketa ganti rugi tanah antara masyarakat penggarap dengan PT Suryamas Duta Makmur. Kasus itu semula hanya terjadi secara lokal. Namun, karen penyelesaiannya lambat dan berlarut-larut, kasusnya tak kunjung tuntas dan berkembang menjadi isu nasional.

Sebagai pimpinan Badan Koordinasi Stabilitas Nasional Daerah (Bakorstanasda), Sutiyoso aktif mengambil peran penengah dalam kasus tersebut. la mengadakan kerja sama dengan Pemda Bogor dan instansi terkait. Bahkan Makodam 062 Suryakencana, Bogor, dijadikan tempat Tim Pemda Bogor, untuk mendekatkan Tim Pelaksana Seleksi dengan lokasi bermasalah. Yang membahagiakan Sutiyoso, kasus Rancamaya berakhir dengan manis. Sebanyak 387 petani penggarap mendapatkan yang menjadi tuntutan mereka, yakni uang ganti rugi tanaman sebesar Rp 153,34 juta.

Memperjuangkan Korps

Sebagai pemimpin, jelas terlihat bahwa Sutiyoso tidak mementingkan kariernya saja. Ketika menjabat Aspers Kopassus, misalnya, ia tidak habis pikir mengapa banyak personil Kopassus yang gagal masuk Seskoad (Sekolah Staf dan Komandi TN Angkatan Darat). Sepintar apa pun perwira di Kopassus, menurut Sutiyoso, jarang ada yang langsung lolos. Sintong Panjaitan dan Sofyan Effendi misalnya, harus dua kali tes baru lolos, sama seperti dirinya.

Setelah mencermati dan menelusuri, Sutiyoso akhirnya menemukan jawabannya. Kegagalan personil Kopassus kebanyakan di psikotes. “Soalnya orang Kopassus itu biasa latihan keras dan ketat secara fisik di medan operasi. Dalam keadaan seperti itu, lalu disuruh mengikuti tes. Jelas, secara psikologis tidak siap mental. Tapi yang tidak pernah bertempur, seperti orang-orang perhubungan, Zeni dan lainnya, bisa lebih konsentrasi dan secara mental lebih siap,” ungkap Sutiyoso.

Dari pengamatan itu, Sutiyoso lalu menghadap Aspers KSAD. Sutiyoso lalu menjelaskan apa yang diamatinya dan memberikan solusi. Dia minta Aspers KSAD memberikan dispensasi kepada perwira-perwira Kopassus. Kalau tidak, bakal tidak ada pimpinan TNI yang berasal dari special forces, pasukan khusus. Padahal, di negara-negara maju, kebanyakan pimpinan militer berasal dari pasukan khusus. “Saya minta orang-orang ini diluluskan semuanya, karena prestasinya bagus,” ujar Sutiyoso ketika itu. Usahanya ternyata berhasil. Sebanyak 15 orang perwira Kopassus lulus masuk Seskoad.

Tak hanya itu. Setelah sukses memperjuangkan perwira Kopassus agar lebih banyak masuk ke Seskoad, Sutiyoso memperjuangkan kepentingan anak buahnya di korps “baret merah” untuk mendapatkan insentif dari setiap lencana/penghargaan yang mereka peroleh. Dia menilai insentif itu perlu. Kalau tidak, apa bedanya Kopassus dengan kesatuan lainnya. Akibatnya, bisa-bisa Kopassus tidak diminati.

Sutiyoso lalu menghadap Aspers KSAD lagi yang waktu itu dijabat oleh Sutopo Juwono, yang dikenal galak. Namun, Sutiyoso punya cara untuk “merayu”. “Pak, Bapak lihat wing saya,” kata Sutiyoso sambil menunjuk lencana wing yang melekat di atas kantong depan seragamnya. Sutiyoso menyarankan agar setiap wing penghargaan mendapat tunjangan Rp 10 ribu per bulan. Karena selama ini yang mendapat tunjangan hanya untuk mendapatkan wing satu bulan. Sedangkan wing komando yang untuk memperolehnya perlu waktu tujuh bulan, tidak mendapat tunjangan. “Kalau begitu sangat tidak adil, dong,” ujar Sutiyoso ketika itu.

Sutiyoso menambah dengan “bumbu-bumbu” lain, bahwa tunjangan itu tidak akan menghabiskan anggaran militer. Karena hanya segelintir orang yang mendapatkan wing komando. “Pantasnya wing komando ini mendapatkan tunjangan tujuh kali lipat. Tapi Bapak cukup memberi tiga puluh ribu saja setiap bulan sudah cukup,” kata Sutiyoso. “Jadi, apakah semua wing ada tunjangannya begitu?” tanya Sutopo Juwono. Sutiyoso dengan tegas mengiyakan. Hatinya begitu gembira, karena setelah itu semua wing atau lencana Kopassus mendapatkan tunjangan.

Pada kesempatan lain Sutiyoso menghadap Sutopo Juwono untuk memperjuangkan rekan-rekannya di korps baret merah, seperti Syahrir dan Agum Gumelar. Saking seringnya, Sutopo Juwono sampai berkata, “Aku ini kalau ketemu kamu, kepalaku jadi puyeng,” cerita Sutiyoso menirukan Sutopo Juwono.***

Bookmarks